DRAMA KOMEDI PILKADA

Pada kesempatan ini saya akan menuliskan sedikit pemikiran tentang sebuah  SANDIWARA/DRAMA KOMEDI PILKADA,ini hanyalah ungkapan dari penulis tentang fenomena alam musiman menjelang berlangsungnya pesta demokrasi yang didengungkan di negara tercinta ini.Para politikus kelas atas menyebutnya dengan PESTA RAKYAT, Pestanya rakyat kecil,Saya rasa ungkapan tersebut bukanlah isapan jempol belaka,mari kita cermati dan renungkan sejenak,pada saat itu kita sebagai masyarakat kecil ibarat seorang anak manja yang selalu perhatikan oleh para pimpinan kita,mereka berdatangan kepada kita tidak peduli dimana kita berada baik kita di pasar,di mal, ditempat kerja,bahkan mereka rela menelusuri pelosok desa yang mungkin belum pernah mereka kunjungi sebelumnya hanya untuk sekedar mendapatkan do'a restu kita,

menanyakan segala masalah dan keluh kesah kita,menghibur kita dengan janji yang tiada terkira,menyiapkan dan bahkan memberi pelayanan istimewa,membuka harapan kita dengan gambaran indahnya masa depan,bahkan ibarat kita meminta untuk menyanyi sekedar menghibur hati kitapun mereka akan dengan bangga malantunkan tembang Nina Bobok yang membuat kita terlena dan melupakan sesaat akan derita dan nestapa yang sehari hari selalu kita jalani.Pada saat itu kita akan diberi beberapa menu pelayanan yang semuanya menjanjikan kebahagiaan dan kesejahteraan,supaya kita saling berebut untuk mendapatkannya,saat itu tak satupun dari kita yang tak ingin berebut untuk dimanjakan oleh pemimpin kita,tak perduli sahabat atau kerabat,kawan atau teman,..bahkan saudara kitapun apabila tidak cocok dengan keyakinan kita akan terjadi silang pendapat yang tak perduli harta,harkat,martabat,hargadiri,bahkan nyawa dapat kita pertaruhkan umtuk pilihan tersebut,sungguh suatu fenomena alam demokrasi yang sedemikian hebat pengaruhnya terhadap kita.Pernahkah kita berfikir,mengapa kita bisa begitu,..apakah terlalu lama kita mendambakan perhatian(karena selama masa kekuasaan,jangan harap perhatian itu  akan  terulang)?,....atau apakah karena jiwa solidaritas dan pengabdian kita pada penguasa yang terlalu besar?....atau bisa juga kita tidak mengerti apa yang sedang terjadi?...
Tapi mari kita renungkan ,Setiap pesta pasti berakhir,dan yang pasti kita semua akan ikut andil dalam membenahi dan menata kembali semua perabotan sisa pesta yang berantakan tersebut,kita semualah yang membersihkannya,janganlah pesta sesaat ini menjadikan kita terlalu lelah bersilang pendapat,sehingga mudah bagi kita untuk merapikan kembali dan bahkan merenovasi dengan nuansa baru sehingga akan lebih indah di pandang dan.

Harapan kita Cuma Satu,...
Saat pesta Usai,para pemimpin kita juga turut bersama kita membersihkan Sisa Pesta dan membantu langsung bukan cuma memberi perintah yang belum tentu dia sendiri mampu melaksanakannya,dan yang paling penting suasana romantis tersebut akan terus berlanjut hingga pesta berikutnya,...

ANDAINYA INI TERJADI,MUNGKIN NEGARA KITALAH YANG ADIKUASA bukan NEGARA LAIN... he..he.. mungkin nggak ya?

5comments:

  1. wis jamane oom......,
    jangankan Pilkada, Pilkades aja suara udah bisa dibeli kok =D

    ReplyDelete
  2. yah itulah mas,mending kalo mahar untuk harga suara kita bisa untuk hidup satu bulan,kadang cuma gara2 uang 100 rb aja, dibelain bonyok nggak karuan,....yang diatas satu meja makan bersama ,kita yang dibawah satu lapangan saling lempar batu bata,....ha..ha... wayang,

    ReplyDelete
  3. coba si om di hitung brapa duit yang kita dapat. trus di bagi masa jabatan diya

    ReplyDelete

silahkan berkomentar untuk kemajuan bersama ,saya akan berusaha untuk membalas secepatnya